Kutukan Kawanan dan Tawa Sisyphus: Menggugat Stoikisme di Balik Teater Banal Bukber

 

https://pin.it/7alUJZkab

Kutukan Kawanan dan Tawa Sisyphus: Menggugat Stoikisme di Balik Teater Banal Bukber

    Selayaknya Lebaran, kegiatan buka bersama (bukber) acap kali menjelma menjadi keniscayaan sosial yang melelahkan. Di bulan Ramadan ini, kita sering kali terjebak dalam riak agenda-agenda banal; ajakan demi ajakan datang menyerbu bak air pasang yang tak tahu diri. Tak jarang, ia menjadi beban ganda: mental yang terkuras dan finansial yang sekarat. Di balik layar ponsel, kita sibuk menimbang jadwal yang sesak, hubungan yang mendingin, hingga kalkulasi THR yang sebenarnya sudah habis sebelum sempat dirayakan.    Kita paham betul bahwa di balik jargon "nostalgia" atau "temu kangen", bukber sering kali tak lebih dari teater adu pencapaian. Kita menyiapkan alibi demi alibi hanya untuk menjaga citra di depan orang-orang yang sebenarnya mulai terasa asing. Ada ketakutan primordial yang bermain di sana: takut terlupakan, takut terasingkan. Ketakutan inilah yang kemudian menciptakan "realita semu" dalam pikiran—sebuah kegelisahan liar yang memaksa kita tetap hadir meski jiwa kita meronta ingin pulang.

    Lelah dengan fenomena ini, banyak dari kita mencari perlindungan pada Stoikisme. Kita mendaku diri sebagai praktisi "dikotomi kendali" agar terlihat lebih waras. Namun, meminjam kacamata Blaise Pascal, Stoikisme sering kali terjebak dalam kesombongan yang sunyi. Ia memandang manusia hanya pada sisi agungnya saja dalam kemampuan bernalar—namun gagal melihat kejatuhan dan kerentanan manusia yang nyata. Menjadi Stoik dalam kerumunan bukber yang memuakkan sering kali berarti menjadi pribadi yang sombong namun pasif; kita mengekang kebebasan jiwa untuk sekadar merasa "tenang" di tengah kepalsuan.

    Ironinya, ketenangan itu sering kali hanyalah pelarian. Saat kita memilih circle tertentu dengan dalih Preferred Indifferent (hal netral yang disukai), kita sering kali bukan sedang melatih karakter, melainkan sedang melakukan kurasi kenyamanan demi ego. Kaum Stoik menganggap kedamaian berasal dari benteng batin yang kuat, namun jika kedamaian itu hanya muncul saat kita bersama orang yang "sefrekuensi", maka itu bukan ketenangan—itu adalah eksklusivitas elitis. Kita tidak sedang mempraktikkan kebajikan; kita hanya sedang melakukan vanity yang dibungkus istilah filosofis.

    Di sinilah Absurdisme menawarkan jalan yang lebih jujur. Seorang Absurdis melihat seluruh interaksi sosial ini sebagai sandiwara yang konyol. Alih-alih mencari "kedamaian batin" yang dingin, mereka memilih "panggung" yang paling jujur atau paling menghibur. Jika seorang Stoik menolak bukber demi "menjaga batin", seorang Absurdis menolaknya sebagai pernyataan kebebasan. Mereka tidak merasa bersalah. Mereka memilih absen bukan karena ingin menjadi suci, tapi karena mereka tahu bahwa ikut ataupun tidak ikut, semesta tetap tidak peduli. Jadi, mengapa tidak memilih yang paling menyenangkan bagi diri sendiri saat ini?

Puncaknya adalah saat realita menghantam: kita terpaksa absen bukber bukan karena pilihan spiritual, melainkan karena dompet yang kosong atau tenggat kerja yang mencekik. Di titik ini, Stoikisme sering kali melakukan "bunuh diri filosofis". Mereka menganggap rasa sedih atau kecewa sebagai "eror dalam sistem" yang harus ditekan. Mereka mendistraksi kepedihan itu dengan bekerja keras, menjadi martir bagi sistem yang korup demi klaim ketenangan semu.

    Sebaliknya, Absurdisme mengajak kita untuk merayakan kekalahan. Saat terjepit antara tuntutan kerja dan keinginan bersosialisasi yang gagal, seorang Absurdis tidak akan berpura-pura bahwa "ini adalah hal netral". Ia akan mengakui bahwa situasi ini sangat menjengkelkan, tidak adil, dan konyol. Namun, alih-alih hancur, ia menghadapinya dengan tawa satir. Ia menyelesaikan pekerjaannya bukan dengan kepatuhan seorang budak, melainkan dengan semangat pemberontakan seorang Sisyphus yang sadar akan batunya.

    Pada akhirnya, Absurdisme jauh lebih membebaskan daripada ketenangan apatis ala Stoikisme. Alih-alih menutup mata dan berpura-pura tenang, mereka mengajak kita untuk membuka mata lebar-lebar. Menjadi Stoik dalam dunia yang absurd ini berisiko mengubah kita menjadi patung yang beku—tak tersentuh namun tak bernyawa. Kita kehilangan kejujuran untuk merasa kecewa, marah, dan sedih.

    Inilah kejujuran intelektual yang sesungguhnya. Kita tidak berpura-pura bahwa basa-basi dalam bukber itu tidak ada. Kita mengakuinya sebagai sesuatu yang konyol, rendah, dan absurd. Namun, alih-alih menjadi "batu" yang kaku seperti kaum Stoik, kita menjadi "penari". Kita berdansa mengikuti irama obrolan kosong itu tanpa pernah benar-benar terjatuh ke dalamnya. Kita berada di sana, tetapi kita bukan bagian dari "kawanan". Kita adalah individu yang menciptakan maknanya sendiri di tengah kerumunan yang sedang sibuk memanjat sosial.

    Pada akhirnya, absen dari bukber karena tuntutan finansial atau pekerjaan bukanlah sebuah kegagalan karakter. Bagi seorang Absurdis, lebih baik kita menertawakan nasib yang konyol daripada membohongi diri dengan kebijakan yang dipaksakan. Sebab, di hadapan meja makan yang kosong atau tumpukan berkas lembur, tawa satir seorang yang bebas jauh lebih berharga daripada wajah tenang seseorang yang sedang mematikan batinnya sendiri. Kita tidak perlu menjadi "waras" dengan cara menyerah; kita hanya perlu berani melihat kekonyolan dunia ini, lalu menertawakannya tepat di depan mukanya.

    Jika dunia ini memang absurd dan tidak bermakna, maka kita bebas untuk menentukan peran apa yang ingin kita mainkan tanpa beban moral untuk terlihat sukses. Kita tidak perlu menjadi "waras" dengan cara menyerah pada ketenangan palsu. Kita hanya perlu berani melihat kekonyolan dunia, merangkul nasib kita yang terjepit, dan tetap menemukan sukacita di dalamnya.

    Sebab, seperti kata Camus dalam mengakhiri mitos Sisyphus yang terus mendorong batu tanpa henti: "The struggle itself toward the heights is enough to fill a man's heart. One must imagine Sisyphus happy" Kita pun harus membayangkan diri kita berbahagia, bahkan saat meja bukber itu terasa jauh, atau saat kita duduk di antaranya sambil menertawakan betapa konyolnya semua ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Semiotika Roland Barthes: Scene Penyelamatan Robin dalam serial Animasi One Piece Arc Enies Lobby

ANALISIS SEMIOTIKA MENURUT ROLAND BARTHES DALAM SERIAL ANIME ONE PIECE: SCENE PERPISAHAN NEFERTARI VIVI DENGAN KRU BAJAK LAUT TOPI JERAMI EPS 129

"Refleksi Diri dan Tujuan yang Diinginkan Dalam Dunia DKV"